Secara etimologis kata adven berasal dari Bahasa Latin “Adventus” yang berarti kedatangan. Dalam konsep kekristenan Adven dapat dipahami sebagai moment Eucharistic di mana umat Kristiani mempersiapkan diri menantikan kedatangan Yesus Kristus sebagai Juru Selamat umat manusia. Adven sebagai masa penantian akan kehadiran (parousia) Yesus Kristus tersingkapnya misteri inkarnasi Sabda Allah menjadi Manusia.
Masa adven merupakan tradisi iman Kristen yang tumbuh pada abad ke-4 di Prancis. Pada zaman itu umat Kristiani mulai mempraktikan konsep adven sebagai masa Epifani dalam bentuk doa dan puasa untuk persiapan diri terhadap penantian kedatangan Tuhan Yesus Kristus. Tradisi iman Kristiani ini terus berlanjut secara kontinuitas melampaui modernisasi zaman sehingga Paus Gelatius I menetapkan masa adven secara liturgis dapat dirayakan selama lima minggu sehingga pada abad ke-5 (590) melalui Sinode di Macon-Gaul Paus Gregorius Agung menyusun doa-doa dan menerbitkan buku mengenai pemaham liturgis mendasar masa Adven sebagai masa penantian dan pengharapan akan kedatangan Yesus Kristus. Pada abad ke-9 Gereja menetapkan minggu pertama masa adven sebagai awal penanggalan liturgi. Sekitar abad ke-11 Paus Gregorius VII (1073-1085) mengubah jumlah masa adven yang pada awalnya dirayakan selama lima minggu diubah menjadi empat minggu yaitu masa adven dimulai setelah hari raya Kristus Raja Semesta Alam dan berakhir sebelum hari minggu tanggal 25 Desember.
Seiring berjalannya waktu, tradisi Gereja ini berlanjut sehingga Ketekismus Gereja Katolik 524 menegaskan secara biblis bahwa “Dalam perayaan liturgi adven, Gereja menghidupkan lagi penantian akan Mesias, dengan demikian umat beriman mengambil bagian dalam persiapan yang lama menjelang kedatangan pertama Penebus dan membaharui di dalamnya kerinduan akan kedatangan-Nya yang kedua (Bdk. Why 22:17). Jadi selama masa adven, umat mempersiapkan kedatangan Kristus dengan melakukan pertobatan, bertekun dalam doa serta membaca Kitab Suci”.
Masa adven dapat ditandai dengan adanya lingkaran karangan bunga dan empat lilin ungu sehingga Documen Directorium Gereja menegaskan makna teologis antara lain: Lingkaran karangan bunga memiliki makna eskatologis bahwa Yesus Kristus adalah Alfa (awal) dan Omega (akhir). Alfabet Yunani ini bukan sekadar simbol melainkan digunakan untuk merepresentasikan sifat Yesus Kristus yang kekal dan abadi. Adapun empat lilin yang digunakan untuk menandai empat minggu masa adven yaitu tiga lilin ungu melambangkan pertobatan dan satu lilin merah mudah/pink melambangkan sukacita. Sebagaimana dalam liturgi Gereja Katolik warna ungu identik dengan simbol pertobatan. Lilin ungu dapat dinyalakan pada minggu pertama, kedua dan keempat sedangkan lilin merah muda/pink dapat dinyalakan pada minggu ketiga masa adven.
Empat minggu masa adven merupakan masa refleksi dan permenungan karya keselamatan Allah terhadap umat manusia sehingga setiap tahapan minggu adven memiliki maknanya tersendiri. Minggu adven yang pertama memiliki makna harapan akan kedatangan Yesus Kristus. Sebagaimnana Para Nabi dalam Perjanjian Lama secara eksplisit telah mewartakan bahwa Yesus Kristus datang menebus dosa umat manusia. Minggu adven kedua melambangkan kesetiaan dan cinta. Melalui masa adven minggu kedua, umat beriman diingatkan agar setia dan penuh cinta mempersiapkan diri menyambut kedatangan Juru Selamat dunia yang akan lahir di Kota Betlehem. Minggu adven ketiga dimaknai sebagai minggu sukacita dan bergembira (Gaudate et Exultate) sebagaimana umat diajak bersukacita menyambut kelahiran Yesus Kristus. Minggu adven keempat melambangkan perdamaian di mana para Malaikat bergembira menyambut kelahiran Yesus Kristus.
Dalam Documen Directorium mengenai kesalehan umat dan liturgi membahas makna adven sebagai masa pertobatan. Pertobatan yang dimaksudkan adalah umat Kristiani diharapkan melakukan rekonsialiasi diri melalui sakramen pertobatan, lebih sering mengikuti ekaristi, baca Kitab Suci, mendengarkan renungan dan melakukan kebaikan-kebaikan sebagai wujud nyata persiapan diri akan kelahiran Yesus Kristus. Di masa adven ini juga umat Kristiani diajak membaharui diri dalam pertobatan sebagaimana ditekankan Paus Benediktus XVI bahwa pertobatan merupakan perubahan batin dan ketersediaan diri menerima kehadiran Yesus Kristus dalam berbagai aspek kehidupan.
