Pelayanan Penuh Iman: Liliana dan Callysta di Meja Altar

Penulis: Jasa Wiguna - Sekolah Katolik Bhakti Prima

Di balik hiruk pikuk seragam putih-biru SMP Katolik Bhakti Prima, terdapat dua hati muda yang berdetak dalam irama pelayanan gereja: Liliana Jocelin dan Callysta Nathania. Keduanya adalah siswi kelas 8 yang memiliki peran istimewa di paroki mereka—mereka adalah Putri Altar, atau lebih umum dikenal sebagai Misdinar.

Menjadi seorang Misdinar (Misdienaar, yang berarti 'asisten misa' dalam Bahasa Belanda) bukanlah sekadar kegiatan ekstrakurikuler. Bagi Liliana dan Callysta, ini adalah panggilan mulia untuk melayani Tuhan dan umat-Nya secara langsung di Meja Altar—pusat dari Perayaan Ekaristi. Tugas mereka, sebagai Putri Altar, adalah membantu Imam dalam setiap prosesi Liturgi, memastikan semuanya berjalan lancar, tertib, dan penuh khidmat.

Komitmen dan Keseimbangan

Setiap akhir pekan, atau pada hari-hari besar Gereja, Liliana dan Callysta mengenakan jubah Misdinar mereka dengan bangga. Liliana, dengan pembawaannya yang tenang, sering bertugas membawa Lilin Altar atau Salib Perarakan, berjalan di depan Imam dengan langkah yang mantap dan teratur.

Sementara Callysta, yang lebih cekatan, bertanggung jawab atas persiapan persembahan—mulai dari membawa air dan anggur (Ampul) hingga membantu Imam menyiapkan Kaliks dan Korporal di atas altar.

Tanggung jawab ini menuntut kedisiplinan dan fokus yang tinggi. Mereka harus tahu persis kapan harus bergerak, kapan harus membunyikan lonceng, dan kapan harus diam dalam doa. Ini juga menjadi tantangan tersendiri untuk menyeimbangkan antara tugas sekolah di SMP Katolik Bhakti Prima dan tugas pelayanan di Gereja. Namun, bagi mereka, momen saat berdiri di dekat Altar, menyaksikan misteri Ekaristi, adalah sumber kekuatan dan ketenangan yang membantu mereka menghadapi minggu-minggu sekolah yang padat.

Lebih dari Sekadar Tugas

Menjadi Misdinar telah membentuk karakter Liliana dan Callysta. Organisasi ini tidak hanya mengajarkan prosedur liturgi, tetapi juga menanamkan nilai-nilai inti Katolik seperti kerendahan hati, ketekunan, dan semangat melayani tanpa pamrih. Dalam kegiatan berkumpul bersama Misdinar lainnya—entah itu latihan, retret, atau sekadar pertemuan rutin—mereka merasakan ikatan persaudaraan yang kuat dan saling mendukung dalam perjalanan iman.

Bagi teman-teman sebayanya di Kelas 8, Liliana dan Callysta adalah contoh nyata bahwa iman harus diwujudkan dalam tindakan nyata. Mereka adalah pengingat bahwa usia muda bukanlah halangan untuk terlibat aktif dalam kehidupan Gereja. Mereka melayani dengan hati yang gembira, menyadari bahwa setiap tugas kecil adalah partisipasi dalam karya agung Tuhan.

Liliana Jocelin dan Callysta Nathania adalah perwujudan dari semangat Misdinar muda: melayani dengan hormat, berpartisipasi dengan sepenuh hati, dan bertumbuh dalam iman Katolik yang mendalam.


Kembali ke Beranda: Klik disini

Mr. Jasa Mr. Jasa
333x dilihat